Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Sunday, December 31, 2017

Untuk Yang Pertama Pengisi Kekosongan

MySatnite.com - Cinta Pertama

Untuk Yang Pertama Pengisi Kekosongan
Sumber pic shmoop, jangan tanya kenapa gambar kucing. Karena mereka lucu.

Pagi yang cerah di awal bulan juni, secerah hatiku saat itu karena baru saja diterima disekolah yang selama ini aku idamkan. Namun bukan hanya itu saja yang membuatku senyum semringah dan semangat untuk cepat cepat berangkat kesekolah.

Aku bertemu dengan seseorang yang membuat hati ini sedikit gugup dihadapannya.
Ini berawal ketika aku berangkat sekolah kemarin, saat di halte dimana tempat menunggu bis jemputan dari sekolah.

Saat itu seperti biasa, aku yang memang selalu terlambat dan kesiangan akhirnya ketinggalan bis.

Tapi hal itu menjadi momen dimana aku bertemu dengan cinta pertamaku. Ya.. aku sebut itu cinta pertamaku walau masih ada embel embel monyetnya.

Yang tadinya sedikit kesal karena ketinggalan bis menjadi hari dimana paling aku syukuri. Setidaknya untuk saat itu.

Yang paling aku sykuri, aku punya teman terlambat hari ini. Dari seragam yang ia kenakan bertuliskan SMA 1 Tangkas OKUT.

Akhirnya kami berangkat dengan bis umum, Ia duduk di bangku paling belakang. Dengan sesekali aku melirik kearahnya.

Ingin rasanya bertegur sapa, setidaknya aku ingin tau namanya.
Namun seperti biasa, aku tak pernah punya keberanian seperti teman temanku yang lain.

Wajar saja aku sering dipanggil cupu disekolah, julukan yang sebenarnya tak pernah aku harapkan. Namun memang seperti itulah kenyataan yang ada.

Jangan lupa baca juga : Teruntuk Kamu Seorang Teman Yang bukan Sekedar Teman

Aku mulai terlihat bodoh didepanmu


Tidak terasa kamipun tiba disekolah, aku langsung berlari menuju kelasku. Karena sebentar lagi bel masuk akan berkumandang, sudah cukup buatku bersih bersih toilet pagi kemarin.

Tapi aku masih penasaran dengan gadis yang berseragam bertuliskan SMA 1 Tangkas itu. Kira kira ia masuk dikelas mana atau mungkin kakak kelasku.

Bel tanda masuk sudah berbunyi, semua sudah siap duduk di bangku masing-masing menunggu guru pertama datang.

“Selamat pagi anak-anak” sapa pak dirlan sang guru matematika.

“pagi pak” jawab kami.

“Hari ini bapak ingin ...... ...... ..... .....”. telingaku seakan tak perduli lagi dengan apa yang Pak Dirlan katakan. Mata ini langsung ternganga tanpa kedip melihat sosok gadis yang disebelah pak dirlan itu.

“Yess..” dengan kencang tanpa sadarnya aku berteriak dan berdiri.

“Ada apa Tama?,” tanya Pak dirlan.

“Ee ee anu pak, akhirnya saya hari ini bisa datang tepat waktu” Aku mulai terlihat bodoh.

“Bagus kalau begitu, baiklah Akina, silahkan perkenalkan diri kamu” suruh Pak Dirlan.

Yah ... namanya Akina, gadis yang aku temui di halte tadi. Ternyata ia anak pindahan dari Jakarta. Disini tinggal bersama kakek dan neneknya.

Setidaknya aku masih bisa memandangmu dari sudut sempit ruangan kelas


Jam pelajaran pertama dimulai, aku tak pernah bisa fokus mendengarkan mulut pak dirlan berceloteh menjelaskan angka dan rumus rumus yang membuat isi kepala ini bekerja ekstra.

Yang sekarang aku pikirkan bagaimana caranya aku bisa menyapa gadis imut yang sekarang duduk di bangku nomor 3 dari depan, baris keempat dari pintu kelas. Sangat jauh dari tempat dudukku yang paling belakang di baris pertama.

Tapi setidaknya aku bisa leluasa memandangi ia dari sini, Nikmat tuhan mana lagi yang engkau dustakan.

Tidak terasa bel istirahat pun telah berkumandang, si gadis imut bernama Akina itu sudah seperti gula dikerubungi teman satu kelas untuk sekedar bertanya-tanya.

Jujur saja, kami hanya tau Jakarta itu dari tivi dan cerita-cerita buku di perpustakaan. Terkadang sesekali ada guru kami yang pernah ikut pelatihan disana menceritakan tentang Jakarta. Yang katanya kota metropolitan dengan gedung gedung tinggi.

Aku sendiri bingung, bagaimana orang bangun gedung tinggi seperti itu. Memang tidak takut roboh?. Pohon kelapa samping rumahku saja saat angin kencang sudah roboh.

Sulit memang membayangkan yang diluar kepalaku. Mungkin suatu saat nanti aku akan pergi kesana untuk melihatnya langsung.

Aku mulai merasa hilang harapan dengan dirimu yang semakin populer


Hari hari pun berganti, namun masih saja aku belum pernah sekalipun menyapa Akina walaupun kami satu kelas. Entahlah, mulut ini sulit sekali raasanya terbuka, langkah berat seakan penuh beban.

Akina, gadis imut dari Jakarta yang meluluhkan hati ini, sekarang menjadi gadis populer di kelas bahkan disekolah. Dari kakak kelas sampai ibu kantinpun sekarang mengenalnya.

Semakin minder dan merasa jauh saja, mana mungkin ia mau berkenalan dengan aku yang hanya kutu buku ini.

Mungkin aku tetap melanjutkan hari hariku seperti biasa, mengumpulkan informasi sebanyak banyaknya di kepala dari buku buku usang di perpus.

Namun disaat kaki melangkah keluar dari pintu kelas ada suara aneh mengiringi dari belakang.

“Taamaa” Pelan namun pasti, suara itu aku kenal. Ya.. hari ini aku sedang tidak beruntung.
Itu suara pengemis disekolah ini, doni, eka dan roni. Anak kelas 3 yang semena-mena dengan adik kelas tak berdaya seperti aku.

“Mau kemana kamu?” tanya doni.

“Ini kak, ee ee mau ke ke” Haduh.. kenapa aku selalu gugup seperti ini. Semakin bahagia wajah mereka untuk menindas.

Namun tuhan berkata lain...

“Ghemm..”.

Itu suara pak Dirlan dari belakang, para pengemis itupun langsung pergi. Akhirnya aku terselamatkan hari ini.

Kebodohan yang selalu aku tunjukkan didepanmu


Hari yang seperti biasanya,  masih di bulan juni namun sudah di penghujung. Tinggal beberapa hari lagi Juli pun tiba.

Sedang asyik diperpus, tiba tiba ada yang menyapaku dengan lembut.

“Tama, kamu sering di perpus juga?”

Saat melihat kearahnya “ee.. ee iya, biasa aku memang sering bantu bantu bersihin dan ngerapihin buku disini, dari pada istirahat bengong aja”. Jawabku dengan Pede 100%.

"k k kamu kok bisa tau nama aku" Tanyaku yang mulai GR (Gede Rasa)

"Iyalah, kitakan satu kelas. Lagian itu ada papan nama di baju kamu"

Hit combo kelihatan bodoh di depan Akina.

“Tamaa, buruan. Jangan sambil ngobrol, mau ditambah hukumannya?” saut ibu penjaga perpus dengan muka murka.

“ii..ii iya bu” jawabku dengan senyum aneh.

“Jadi kamu lagi dihukum tam?” cetus Akina, dengan sedikit senyum.

Oke, hari ini aku dihukum karena telat mengembalikan buku ke perpus. Bukan masalah hukumanannya. Tapi kenapa Akina menyapa aku saat momen yang tidak tepat. lagi lagi aku terlihat bodoh didepannya untuk kedua kalinya.

Ini jauh dari ekspetasiku yang berharap kesan pertama kami bertemu dan saling sapa itu ketika aku terlihat keren dimatanya, seperti itulah yang aku tonton di tivi.

Tapi yang jauh lebih penting adalah akhirnya aku dan Akina bisa tegur sapa, meski dengan kesan pertama yang kurang mengenakan.

Kesan pertama yang membuat aku terlihat bodoh, kesan pertama yang membuat aku semakin terlihat cupu. Namun tetap aku syukuri.

Pada akhirnya waktu tetap berpihak padaku, meski mulut masih terasa kaku


Tuhan selalu punya rencana indah untuk saling mempertemukan dengan tidak kesengajaan. Dari pertemuan pertama tanpa kata, dari sapa tanpa makna. Akhirnya kami mulai terbiasa dengan suasana.

Akina : “Tama.. Tam, Makan mie ayam yok? Aku yang traktir hari ini”

Aku : “Siaap, bentar aku mau simpen tulisanku dulu.”

Hujan dipenghujung desember sudah mulai reda, langkah kaki mulai pudar dalam genangan.

Langkah tetap melaju meski rindu hanya terpatri dalam kalbu, lagi lagi mulut sulit terbuka hanya sekedar mengucap Aku Rindu.

***

Gedung tinggi yang selalu aku bandingkan dengan pohon kelapa disamping rumah, hari ini tepat di depan mataku. Hidup itu memang harus dinikmati, sampai dimana yang sekedar mimpi belaka mampu menjadi nyata dengan bantuan usaha dan doa.

Lihat Akina, aku sudah berdiri di kotamu, namun tetap dengan senyummu didepanku sembari menikmati mie ayam dibawah tenda biru.

Akina, selamat tahun baru. Ini tahun baru yang kesekian kalinya namun terasa sama dan hampa.

Saturday, December 16, 2017

Teruntuk Kamu Seorang Teman Yang Bukan Sekedar Teman

MySatnite.com - Teman Yang Bukan Sekedar Teman

Teruntuk Kamu Seorang Teman Yang Bukan Sekedar Teman
Sumber pic litlepups terus diedit lagi - jangan tanya kenapa kucing - ini cuma fiksi lo

Aneh rasanya saat sebuah kebersamaan yang selalu kita lalui berubah menjadi perasaan yang ambigu. Pada awalnya tidak pernah ada terbesit untuk menyimpan rasa, bahkan untuk menyapamu dengan lembut saja sangat sulit.

Tapi dengan berjalannya waktu, semua berubah dari yang sederhana menjadi rumit. Dari yang biasa menjadi sesuatu yang sulit diterka.

Tapi kau menganggap semuanya seperti biasa, tidak ada terlihat yang berubah. Namun semakin hari aku merasa tersiksa menahan perasaan yang terlanjur tercipta.

Perasaan ini sedikit mengganggu namun aku bahagia merasakannya


Sedikit mengganggu karena ada rasa cemburu, tapi apa daya tidak ada upaya untuk aku mampu berkata.

Ingin rasanya mengatakan "Hey, Akina. Aku pengen makan mie ayam". Asal kau tau bukan itu yang ingin aku ucapkan.

Tapi lidah kelu rasanya dan berdalih mencari alasan agar mampu duduk dan makan berdua denganmu.

Bahagia ketika aku memiliki perasaan ini, tidak tau kenapa? yang pasti rasanya perasaan ini membuat semangat hidupku meningkat 50%.

"Cinta memang sulit dimengerti, tapi tidak ada habisnya untuk dibahas dan tidak pernah ada rasa bosan untuk saya membahasnya"

Jangan lupa baca juga : Akina Bunga Dimusim Semi

Perasaan ini hadir ketika pertemanan kita sudah terjalin


Bingung rasanya antara sebuah pertemanan yang sudah terjalin atau mengikuti ego dan perasaan yang baru saja hadir.

Ingin rasanya lidah ini mengucap tapi selalu terdiam saat kau berdiri didepanku dengan senyum sedikit sayu.

Tidak ada yang salah, mungkin karena sebuah kebersamaan yang membuat rasa ini hadir tanpa aku sadari.

"Seperti lagu zigaz saja Sahabat jadi cinta, saya pikir ini hanya terjadi dalam lagu dan ftv saja. Di dunia nyata bahkan sering terjadi"

Kenapa tidak jujur saja?


Terkadang ingin rasanya jujur dengan perasaan yang sedang dirasakan tapi seperti yang aku katakan diatas. Lidah ini kelu untuk berucap, hanya bisa berucap untuk mengajak makan mie ayam.

Takut ketika perasaanku tidak berbalas dan hubungan pertemanan ini sedikit demi sedikit akan merenggang.

Jadi aku putuskan untuk tetap diam dan menikmati saja yang terjadi dari hari kehari sebelum semuanya berakhir. Karena aku yakin semuanya tidak akan selalu seperti ini, ada awal pasti ada akhir.

"Lucu memang, cinta itu membutakan segalanya terkadang diri kita seperti orang idiot dibuatnya. Tapi seperti apapun cara pandang masing-masing orang, cinta itu tetap sebuah anugrah dari tuhan"

Pada akhirnya akan tetap sama


Meski sedekat apapun jarak kita, kalau memang Allah berkehendak kita tidak bersama apa mau dibuat.

Jadi biarkanlah perasaan ini selalu aku simpan dan menunggu waktu yang tepat disaat hati sudah mantap dan siap.

Bukan sebuah ungkapan semata tapi sebuah rencana yang lebih dari sekedar kata-kata. Mungkin suatu saat kita terpisah jauh, tapi jika Allah menakdirkan kita bersama, semua akan kembali sama.

Aku simpan saja rasa ini dan setiap hari akan kubuat proposal untuk memintamu dari tangan-NYA lewat baris doa.

"Pada akhirnya cinta itu masih menjadi sebuah rahasia tuhan, meski kita bicara saling cinta dan berjanji untuk bersama. Namun ketika Allah berkata, dia bukan jodohmu, mau bilang apa"

***

Lihatlah Akina, hujan pertama di minggu kedua bulan Desember telah reda. Meski tidak ada pelangi sesudahnya namun tetap saja ada mentari dan harapan di sudut senja.

Kau tau, seperti namamu "A-k-i-n-a" yang berarti bunga dimusim semi. Meski diterpa derasnya angin dan air hujan kau tetap berdiri dengan senyum sayumu, secantik bunga yang mekar dimusim semi.

Bahagia rasanya bisa duduk berdua denganmu di bawah tenda biru ini, sambil menikmati pemandangan orang yang berdatangan. Indah bukan.

Saya : "Bang, mie ayamnya satu lagi"

Akina : "Kamu gak kenyang-kenyang Tam, saya juga satu lagi deh di tambah baksonya ya :D"