Friday, November 17, 2017

Memberi dan Sebuah Kebahagiaan

Memberi dan Sebuah Kebahagiaan
Sumber pic Om Gugel

Malam tadi saya bertemu dengan teman lama sekaligus salah satu senior saya sewaktu kerja dulu. Sudah hampir 3 tahun kita tidak pernah bertemu, sejak saya memutuskan untuk pindah ketempat kerja yang sekarang ini. Kesibukan juga yang pastinya menjadi penghalang kami untuk saling sapa di dunia nyata.

Pertemuan malam ini pun tidak dijanjikan, ya mungkin Allah sudah mengaturnya untuk kami tetap menjalin silaturrahmi.

Didalam kereta perjalanan pulang kami bertemu. Beliau yang menyapa saya terlebih dahulu. “Mas Adi ya?”, sembari menepuk pundak saya. “eh pak Dirlan”, jawab saya. “Apa kabar mas, kerja dimana sekarang?” tanya beliau.

...
Dari sini percakapan kamipun berlanjut, meski dalam keadaan berdiri didalam kereta. Sampai tibanya kereta berhenti distasiun, saya dan pak dirlan segera bergegas untuk turun. Sebenarnya kami memang satu arah dan berhenti di stasiun yang sama tapi tidak pernah saling bertemu dan baru kali ini. Semua memang sudah di atur yang di atas.

Setelah dari stasiun kami berpisah dengan menaiki angkot dengan jurusan yang beda. Saya juga memang hari ini tidak membawa motor, lagi kepengen naik angkot saja.

Saya melihat kearah pak dirlan dari dalam angkot, beliau tidak langsung menaiki angkotnya. Beliau berhenti sejenak, tangan kanannya merogoh kekantong celananya dan memeberikan sesutu kepada orang yang didepannya.

Saya tidak tau apa yang beliau berikan dan siapa orang yang didepannya itu. Yang saya lihat dari kejauhan hanya sesosok ibu-ibu bahkan sudah bisa dibilang nenek-nenek.

Saya hanya tersenyum sembari kembali teringat ketika pertama kali bertemu dengan pak dirlan ditempat kerja. Waktu itu saya karyawan baru sekitar tiga hari disana. Saya dipertemukan dengan pak dirlan karena ditempatkan dalam satu tim kerja, beliau sebagai pemimpin.

Ada satu kejadian yang membuat saya selalu ingat, sewaktu kita berdua makan siang diluar. Hari itu saya ditraktir sama beliau hehe. Perbedaan usia kami sangat jauh yaitu 22 tahun, sudah seperti bapak saya sendiri.

Makan di restoran sejuta umat (warteg), sewaktu sedang menikmati makan. Ada datang seorang ibu dan dua anak ingin membeli nasi. Tapi uangnya kurang dan sipemilik tidak memberikannya.

Pak Dirlanpun seketika berdiri “Mbak kasih aja ibu ini mau beli apa, biar saya nanti yang bayarnya” uacap pak Dirlan. Tidak berhenti sampai disitu, beliau juga memberikan uang kepada si ibu tadi “nih bu, ada rezeki sedikit buat ibu sama anaknya”.

Saya hanya menatap bengong dan berfikir masih ada orang seperti ini di zaman sekarang. Apa lagi ini di Ibu kota yang katanya kejam.

Dalam perjalanan pulang dari tempat makan, saya menyakan perihal tadi. “maaf pak, tadi kenapa bapak baik banget sama itu ibu-ibu?” tanya saya.

Beliaupun sedikit menghela nafas sembari tersenyum dan mulai menjawab pertanyaan konyol saya tadi 

    “hmm gina ya mas adi, hidup itu sementara. Apa lagi buat saya yang sudah usia berkepala empat. Apa yang ingin saya tuju lagi sudah tidak ada, sekarang saya hanya berfokus dengan anak dan istri.


    Selain itu saya ingin sisa waktu saya dapat berguna untuk sesama, seperti yang mas adi lihat tadi. Berbagi kesesama itu tidak akan membuat kita jatuh miskin, yang ada kita bisa merasakan kebahagiaan. Selagi gusti Allah memberikan kesempatan kita untuk berbuat baik, pergunakanlah.”,  Sembari tersenyum dan menpuk pundak saya lalau beliau melanjutkan perkataanya


    “Mas adi masih muda, jalan hidupnya masih panjang. Masih punya banyak kesempatan. Mungkin suatu saat nanti mas adi bakal mengerti dengan ucapan saya tadi, paham gak?”. Ucap beliau sambil tertawa kecil.

Saya hanya mengangguk dan bengong saja, tapi memang ada benarnya apa yang dikatakan pak Dirlan.

Setelah dari situ saya selalu mencoba menerapkan apa yang pak Dirlan ajarkan kepada saya tentang makna berbagi. Ternyata benar adanya banyak hal yang saya dapatkan dan perubahan dalam hidup saya.

Sebuah Kebahaagiaan dari Hal Sederhana


Sekecil apapun yang kita beri kepada orang yang membutuhkan tentu akan bermanfaat untuk mereka. Seperti kata ungkapan “Tangan diatas lebih baik dari pada tangan di bawah”, karena memberi lebih baik dari pada menerima, dengan memberi kita bisa lebih bersyukur.

Didalam Islam pun kita diajarkan untuk berbagi dan memberi.

Tentu selalu ada pertanyaan, apa sih yang kita dapat dari memberi/berbagi?, memang kita mungkin tidak akan mendapatkan apa-apa. Apa lagi berharap sebuah imbalan segepok emas turun dari langit, itu hal yang tidak mungkin kan.
Lalu apa?,

Sebuah kebahagiaan, ketika kita memberi dan berbagi kesesama itu ada rasa bahagia di hati. Apa lagi orang yang kita beri itu terlhat bahagia. Double combo rasanya kebahagiaan yang kita rasakan itu.

Mampu Bersyukur Dengan Apa yang Kita Miliki


Dengan menyisihkan sedikit uang disaku kita untuk sekedar berbagi kesesama yang memang membutuhkan.

Dengan ini kita bisa lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang, sesulit apapun kita hari ini diluar sana masih banyak orang yang lebih sulit dari pada kita.

Bersyukur karena kita masih bisa berbagi, walaupun terkadang kita masih pas pasan.

Rasa Puas yang Didapatkan


Ada rasa kepuasan tersendiri saat kita memberi, rasanya hati ini lebih lega dan tenang.  Masalah yang terjadi seakan sejenak hilang dari kepala.

Apa lagi kita ikhlas dengan segenap hati untuk berbagi, selain kebahagiaan yang kita dapatkan ada rasa ketenangan dalam diri ini. Ketenangan dalam menjalani hidup meski begitu banyak problematika yang ada.

Meningkatkan Mood Kita


Saya tidak tau apa ini juga berpengaruh dengan orang lain, tapi saya merasakan saat kita berbagi dengan sesama itu. Rasa mood kita itu sperti meningkat beberapa persen, hidup rasanya kembali bergairah lagi.

Yang tadinya mungkin sudah merasa lelah dengan rutinitas yang membosankan dan kehidupan yang monoton. Berputar-putar seperti itu setiap harinya, namun ketika kita mampu berbagi dengan sesama. Kita akan merasakan lagi semangat untuk menjalani kehidupan seolah selalu ada harapan baru didepan.

...
Cerita diatas memang banar adanya saya alami, saya pun awalnya tidak pernah percaya masih ada orang baik seperti beliau. Di tengah-tengah ibu kota yang penuh sesak dengan orang-orang yang penuh dengan ambisi besar, rasa haus dan rakus akan kekuasaan.

Tapi dibalik kejamnya Ibu Kota, masih tersimpan orang-orang yang hatinya baik dan penuh rasa kemanusiaan.

Berbagi tidak selamanya harus dengan uang atau harta yang kita milikki. Berbagi juga tidak harus dengan orang lain atau siapapun itu.

Berbagi kebahagiaan dengan para sahabat dan keluarga terdekat pun akan membuat kita lebih tenang dan bahagia tentunya.

Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan, namun sepertinya akan panjang dan mungkin yang baca juga akan bosan melihat tulisan. Jadi saya hanya mengambil point pentingnya saja.

Berbuat baik selagi masih diberi kesempatan, karena hari esok kita tidak pernah tau.

Lain kali mungkin saya harus foto bareng dengan beliau, untuk sebuah kenang-kengangan.

Hanya blogger biasa yang biasa melakukan kebiasaan diluar orang-orang biasa. Blogger part time yang sehari harinya bekerja di perusahaan branding kawasan jakarta.

48 komentar

mas menarik..

cuma ngak faham penuh.

mungkin bahasa agak berbeda dengan teman teman yang lain..

berjumpa kawan itu adalah aturan yang Maha Esa.

Syukur saja mas

baca tulisan mas tama dr awal,saya pikir pak dirlan orangnya bakal cuek sama masalah beginian, bapak ini sepertinya juga org yg super sibuk,ternyata masih sempat berbagi ke sesama, dermawan juga..:)

Btw, penulis sudah berbagi apa hari ini?heheh :D

Hahaha
bahasa saya memang sedikit sulit dimengerti ya

Hari ini belum banyak berbagi
namu masih bisa berbagi senyum :D hahaha

Semua kejadian ditulis dan diambil hikmahnya, keren sangat 😁

Kalau penjual emang harus begitu,..jika tidak punya duit ya tidak boleh beli. Karena niatnya , cari keuntungan.
Manfaat memberi itu sungguh luar biasa, rasa bahagi ini yang tidak terkira. Kadang sampai lupa derita yang dialami karena melihat senyum kebahagian orang lain.
Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.

Apalagi gaya bahasa saya, yang mirip bahasa malaysia. Terbolak-balik :)

saat melihat org yg kita bantu tersenyum saat itu rasa bahagia tersendiri.
Seperti konseling, yg nampak bahwa individu punya banyak masalah, dengn tulus guru bk membantu untuk menerima semua keluh kesahnya dan membantu individu memecahkan masalahnya.
Apa lagi setelah konseling individu bisa benar2 mengatasi masalahnya, puas rasa di hati guru bk 😀

memberi manfaat untuk orang lain memang rasanya beda! Bahagiaaa lhoo

banyak kebahagiaan dari hal sederhana, setelah kita bahagia hal sederhana itu menjadi luar biasa karena rasa syukur kita. itulah bahagia dari apa yang kamu dapatkan dari ikhlasmu dan nikmat yang masih bisa kita rasakan karena mensyukurinya.

Pengalaman yg sangat berharga dan patut dijadikan contoh bagi kita agar mau berbagi untuk sesama tanpa ada embel2 apapun. Yg penting Ikhlas dan bermanfaat bagi yg dibantunya.. Nice Artikel Mas Adi

Tapi semakin kesini, kayanya ada orang baik itu wow banget ya, padahal kita diajarkan menjadi baik. Baik itu hanya ada dalam pelajaran sekolah, realita mah jadi apatis lah, culas lah.

Tapi dari point-point tulisan diatas sungguh bermanfaat, sankyu udah ingetin bang :D

berbagi nggak bakal membuat kita miskin , malah Allah akan tambahkan rezekinya kalau tidak di dunia maka diakhirat nanti jauh lebih baik lagi balasannya, artikel yang bagus dek

Masya Allah.. keren ya Pak Dirlan itu. Iya sih, sedekah tidak akan pernah membuat kita jadi kekurangan. Justru biasanya kita akan terus ditambah lagi rezekinya.

bahagia terjadi jika kita mampu bersyukur dengan yang ada sekarang ini

Hehehe, katanya kalo nulis dengan kejujuran itu enak mas idris :D

Bener mas bumi
Dengan memberi ke sesama yang membutuhkan membuat perasaan lebih bahagia :D

Ternyata yang dirasakan guru BK sperti itu ya :D

Benr mbak indah, bahagia bener2 bahagia :D

Bener banget mbah dinan
kalo kita iklas semua akan terasa lega dihati :D

Iya mang eka, tidak perlu di umbar kesana kemari
kalo iklas hnya Allah yang membalasnya
makasih mang :D

Iya mas kang asep, kita dr kecil memang di ajarkan untuk kebaikan
tapi di era modern skrng ini, orang baik terasa langka. Sebenrnya bukan orang baik tapi orang yang peduli sesama. :D

Iya mang, hehehe
Allah yang akan membalas semuanya :D mkasih mang

Iya bu ade, pak dirlan memang sosok yang keren di mata saya.
seorang pemimpin yang benar2 mengayomi bawahannya
dan memang bener2 orang baik :D

Setuju mang, dengan bersyukur kita akan lebih terasa bahagia :D

Sebuah pencerahan yang sangat inspiratif mas Adi, memberi itu hal yang mudah tapi terkadang kita terasa sulit membiasakannya, semoga kebaikan bapak Dirlan mampu membuat banyak orang lebih suka berbagi seperti yang dicontohkan beliau selama ini.

Tetap menulis yang bisa membuat orang termotivasi mas. btw tulisannya memotivasiku.

Semoga selalu ada pak dirlan yang lain di luar sana bang.
Yah, bener banget sih itu. Berbagi dapat memberikan rasa puas tersendiri pada saat memberi (y)

Sungguh dermawan pak Dirlan ini, mudah-mudahan menjadi amal yg soleh, dan perlu di contoh nih!

Seperti yang dikatakan pak Dirlan, 'Bahagia itu lahir bukan dari seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi seberapa banyak kita mampu memberi kebahagiaan buat orang lain'.
Saya sependapat dengan pak Dirlan. Meskipun tidak sependapatan. Haha

berbagi memang hal yang menyenangkan, apalagi bisa berbagi pengalaman yang dimiliki kepada orang lain dan bertemu orang yang tak diduga yang memberikan inspirasi pada kita

Susah nyari orang sebaik Pak Dirlan tapi toh nyatanya masih ada orang orang yang dermawan meski bukan orang kaya raya

kadang menerima apa adanya yang susah. kalau saya biasanya gak mau menerima apa adanya dulu, tapi berusaha. sampai usaha itu mungikin dianggap mentok, baru mempelajari apa yang kurang dan itu saya jadikan pelajaran buat pribadi.

kadang rasa sabar itu hanya bisa diterjemahkan oleh hati yang tenang dan ditenangkan.

tapi banyak juga mas kejujuran itu harus dibayar mahal yang tidak sesuai pengharapan. makanya kata yang tidak pernah usang dan selalu terpakai atau dianggap paling efektif adalah "sabar".

Masih banyak, kok, orang baik di dunia ini. Kalaupun ngerasa udah jarang, kenapa kita nggak mencoba jadi salah satunya? :)

Gue juga pernah nulis cerita sejenis ini. Berbagi cerita kebahagiaan yang meski terlihat sederhana. :D

Ditunggu foto barengnya sama Pak Dirlan, Gan. :)

Aamiin
bener mang, memberi itu mudah tapi kadang iklasnya yang sulit :D

Iya mas Ammar
InsyaAllah masih terus nulis untuk menginspirasi :D

Iya bang juanda, masih bnyak di luar sana pak dirlan lain :D

Hahaha..
Bener mang Artub, bahagia itu sebenrnya sederhana tapi kadang kita saja yang membuatnya rumit :D

Setuju kang, bertetmu dengan orang yang bisa menginspirasi kita untuk menjadi lebih baik itu memang menyenangkan :D

Bener mang dwi, cari orang baik di era modern memang sulit
tapi nyatanya masih ada kan:D

Setuju, kalo memang merasa tidak ada
kenapa bukan kita saja yang menjadi salah satu dari orang baik itu :D

Iya Mas Zukirama
insyaAllah nanti kalo ketemu lagi pasti saya ajak foto :D

kebaikan itu kuat dan kejahatan amat lemah namun kadang orang suka mengekpos keburukan bukan mengekspos hal baik

Bener mang, seribu kebaikan akan musnah dengan hanya satu kejahatan
seperti pribahasa hilang kemarau setahun oleh hujan sehari :D

huhu terharu dan terpukul baca tulisan gini, kadang kita kurang bersyukur dan terus merasa kurang.. bikin kita lupa, masih banyak yang lebih susah daripada kita..

tulisannya bagus mas

Silahkan untuk berkomentar, siapa tau bisa saling kenal dan saling sharing. Sekedar tegur sapa dalam kolom komentar mungkin akan berlanjut untuk kopdar, sejatinya menjalin pertemanan itu lebih indah. Kalau pun ada kekurangan silahkan untuk kritik beserta sarannya.
EmoticonEmoticon